Sebagian orang masih banyak yang meragukan tentang kebenaran agama islam ini, tak kecuali adalah mereka yang telah mengaku sebagai muslim. Makanya perlu kita ketahui bahwa Islam adalah agama yang hak dengan beberapa fakta dibawah ini :
1. Nama “Muhammad” adalah nama yang paling populer di seluruh dunia (walaupun salah mahomed..mohammed..dll) dan menempati urutan nomor dua di negara Inggris untuk nama bayi laki-laki ( urutan pertama ditempati oleh nama ‘Jack’ )
2. Albania merupakan negara satu-satunya di benua Eropa yang 90% penduduknya beragama Islam
3. Kata-kata berikut ini diserap dari bahasa Arab : Algebra, Zero, Cotton, Sofa, Rice, Candy, Safron, Balcony, bahkan ‘Alcohol’ juga berasal dari bahasa Arab, Al-Kuhl, yang mempunyai arti bubuk
4. Beberapa ayat di dalam Al-Qur’an menggambarkan pentingnya persamaan hak antara pria dan wanita ( secara perhitungan matematik ). Kata “Pria” dan “Wanita” di dalam Al-Qur’an sama-sama berjumlah 24
5. Tidak ada apa-apa di dalam Ka’bah
6. Islam merupakan agama yang pertumbuhannya paling cepat di dunia menurut banyak sumber, diperkirakan akan menjadi agama nomor 1 pada tahun 2030
7. Umat Hindu percaya bahwa di dalam Ka’Bah ada salah satu dari Tuhan mereka yang bernama ‘Shiva Lingam‘
8. Nabi Muhammad SAW melaksanakan ibadah haji hanya 2 kali dalam hidupnya
9. Jikalau sekarang Al-Qur’an dihancurkan, maka versi arab dari Al-Qur’an akan segera di-recover oleh jutaan muslim, yang disebut Huffaz yang telah menghafalkan kata-kata di dalam Al-Qur’an dari mulai awal sampai dengan akhir ayat.
10. Nama original dari kota suci Madinah adalah “Yasthrib"
11. pemeluk Islam bertambah 2,9% per tahun. Pertumbuhan ini lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah penduduk bumi sendiri yang hanya 2,3% per tahun.
12. Berdasarkan data dari Departmen Pertahanan Amerika Serikat. Dari 1,4 juta prajurit di militer Amerika, diperkirakan ada sekitar 3.700 yang beragama Islam ( Muslim ).
13. islam menyebar ke bumi nusantara ketika Nabi Muhammad masi hidup
14. Sebanyak 8 juta orang Muslim yang kini ada di AS dan 20.000 orang AS masuk Islam setiap tahun setelah peristiwa 9/11
15. Jasad Nabi Muhammad pernah ingin dicuri 2 kali, namun kedua2nya gagal dan salah satu yang mencuri dihilangkan oleh Allah dari bumi
16. Jasad Firaun (Ramses II) yang tenggelam di laut merah, Baru ditemukan
oleh arkeolog Giovanni Battista Belzoni tahun 1817. setelah 3000 tahun berada di bawah tanah dan pasir
17. Al Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang bisa dihafal jutaan manusia (Hafidz/penghafal Al Qur’an) sehingga keaslian/kesuciannya selalu terjaga.
18. Jika agama lain bisa punya lebih dari 4 versi kitab suci yang berbeda satu dengan lainnya, maka Al Qur’an hanya ada satu dan tak ada pertentangan di dalamnya:
19. Para astronot telah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi yang berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Ka’Bah. Yang mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite ( tidak berujung ), radiasi tersebut menembus planet mars dan masih berlanjut. peneliti mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’Bah di di planet Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.
Spoiler for sumber:
http://www.indomp3z.us/archive/index.php/t-88731.html
20. Penelitian lainnya mengungkapkan bahwa batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di dunia dan juga bisa mengambang di air.
21. Shalat yang pertama dilakukan oleh Rasulallah Saw menghadap Masjidil Haram adalah shalat Ashar bersama para sahabat, setelah sebelumnya berkiblat ke Masjidil Baitul Maqdis selama enam belas bulan.
22. IBRAHIM adalah "Bapak" dari tiga agama besar, yakni "Judaisme", "Nasrani", dan "Islam".
23. Malaikat tidak terhitung jumlahnya dan hanya Allah yang mengetahuinya.
24. Islam, berarti "submisi" atau "menyerah" kepada satu Tuhan, Allah. "Islam" juga berasal dari kata "salam", "perdamaian" dan yang kedua dalam arti "berserah diri". demikian, arti dari "Islam" adalah "kedamaian yang sempurna yang datang bila kita hidup berserah diri kepada Allah".
25. Rasulullah pernah membelah bulan menjadi 2 bagian, dengan hanya menunjuk bulan dengan jarinya. diabadikan Allah dalam al-Qur'an surah Al-Qamar ayat 1: "Sungguh telah dekat hari qiamat, dan bulan pun telah terbelah."
26. sebelum Nabi Ibrahim menginjakkan kakinya ke tanah Makkah sudah ada bangunan Ka'bah yang telah dibangun oleh malaikat dan generasi
sebelum Nabi Ibrahim as. Hal itu dapat dipahami dari kata "Yarfa'u" meninggikan berarti meninggikan bangunan yang sudah ada.
sumber : http://www.acehforum.or.id/sejarah-p...ah-t17975.html
27. Aliran sesat di Indonesia dalam rentangan waktu selama 6 tahun saja (2001 – 2006) telah mencapai angka 250 aliran.
28. Rasulullah menyebutkan ada 73 golongan dalam islam, dan hanya 1 yang akan masuk jannah yaitu "Al Jama’ah".
29. Nabi Muhammad tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis, namun ingatannya sangat kuat dan sangat cerdas.
30. kata2 terakhir Nabi Muhammad sebelum wafat adalah "Ummatii … ummatii … ummatii" yang mengungkapkan betapa besar cintanya kepada umatnya.
31. Selama 23 kali perang semasa Rasulullah memimpin, hanya sekali kekalahan yang di derita kaum muslimin, yakni, perang uhud
32. Musa A.S adalah nama yang paling sering disebut dalam Al-Qur'an, sedangkan maryam adalah satu2nya nama perempuan yang disebut dalam Al-Qur'an.
33. Al-Qur'an adalah buku terlaris di benua eropa.
34. Semua anak Nabi Muhammad, yakni, Al-Qasim,Abdullah dan Ibrahim, meninggal kurang lebih pada usia 2 tahun. Allah sengaja memanggil mereka lebih awal agar kaum muslimin tidak mengangkat mereka menjadi rasul yang baru.
35. Imam Ali bin Abi Thalib adalah satu-satunya orang yang pernah lahir di dalam Ka’bah.
36. Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa anak cucu Adamlah yang menjadikannya hitam.
37. Al Khowarizmi (matematika), Jabir Ibn Hayyan (kimia), Ibnu Khaldun (sosiologi dan sejarah), Ibnu Sina (kedokteran), Ar Razi (kedokteran), Al Biruni (fisika), Ibnu Batutah (antropologi) adalah contoh dari ratusan cendikiawan muslim yang menjadi rujukan dalam ilmu pengetahuan modern.
38. Hijir Ismail ini dahulu merupakan tempat tinggal Nabi Ismail, disitulah Nabi Ismail tinggal semasa hidupnya dan kemudian menjadi kuburan beliau dan juga ibunya.
39. Maqom Ibrahim bukanlah kuburan Nabi Ibrahim sebagaimana dugaan atau pendapat sebagian orang. Maqom Ibrahim adalah batu pijakan pada saat Nabi Ibrahim membangun Ka'bah.
40. pasukan Salib datang ke Timur ketika Khalifah Bani Abbas berada dalam masa kemunduran. Tak diduga, banyak anggota pasukan Salib tertarik kepada Islam dan kemudian menggabungkan diri dengan pasukan Salib lainnya. Thomas Arnold, dalam Al Da'wah ila Al Islam, menyebutkan bahwa mereka masuk Islam setelah melihat kepahlawanan Salahuddin sebagai cerminan ajaran Islam.
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Minggu, 07 November 2010
Selasa, 02 November 2010
Hakikat Rezeki
Rezeki dalam Islam adalah apa yang kita makan, kita berikan dan apa-apa yang kita pakai. Jadi jika Anda mempunyai tabungan Rp 100juta di bank, itu belum tentu menjadi rezeki Anda.
Rezeki telah ditentukan oleh-Nya dengan banyak ragam. Sehingga ketika kita merasa kesulitan dengan rezeki, pertanyaannya adalah bukan soal kenapa rezeki kita sedikit, tapi seberapa jauh kita berusaha menjemput rezeki kita.
Adapun bagi orang yang memperoleh hartanya dengan cara yang haram, maka Islam memandangnya bukan sebagai rezeki, tapi musibah yang harus kita hindari. Karena rezeki dalam Islam tidak semata harta, tapi apapun yang bisa kita gunakan untuk dimakan, diberi atau dipakai. Sekiranya kita yakin bahwa Allah Maha PEmberi rezeki, sehingga binatang melata atau yang lebih kecil lagi dari itu tetap dapat rezeki, maka kita seharusnya lebih mampu mendapatkan rezeki jauh lebih banyak dari itu. Sedangkan bila secara hitungan matematis ternyata tetap kecil, maka orang yang diberi hikmah oleh-Nya tentu paham mengapa hal itu yang ditetapkan oleh Rabbnya.
Mudah-mudahan info berikut bisa sebagai salah satu pelebar rezeki Anda dan saya
Rezeki telah ditentukan oleh-Nya dengan banyak ragam. Sehingga ketika kita merasa kesulitan dengan rezeki, pertanyaannya adalah bukan soal kenapa rezeki kita sedikit, tapi seberapa jauh kita berusaha menjemput rezeki kita.
Adapun bagi orang yang memperoleh hartanya dengan cara yang haram, maka Islam memandangnya bukan sebagai rezeki, tapi musibah yang harus kita hindari. Karena rezeki dalam Islam tidak semata harta, tapi apapun yang bisa kita gunakan untuk dimakan, diberi atau dipakai. Sekiranya kita yakin bahwa Allah Maha PEmberi rezeki, sehingga binatang melata atau yang lebih kecil lagi dari itu tetap dapat rezeki, maka kita seharusnya lebih mampu mendapatkan rezeki jauh lebih banyak dari itu. Sedangkan bila secara hitungan matematis ternyata tetap kecil, maka orang yang diberi hikmah oleh-Nya tentu paham mengapa hal itu yang ditetapkan oleh Rabbnya.
Mudah-mudahan info berikut bisa sebagai salah satu pelebar rezeki Anda dan saya
Berpikir Agama Secara Kafah
Oleh Dr. K.H. SANUSI UWES
ISYARAT adanya kegelisahan masyarakat Islam Indonesia yang dikemukakan Kuntowijoyo sebagai guru bangsa terhadap pikiran-pikiran yang menggetarkan (thrilling) akhir-akhir ini perlu diapresiasi oleh semua kalangan pencinta ilmu-ilmu keislaman dengan baik dan cermat. Sebab bagaimanapun adalah benar bahwa pada akhirnya bentuk dan kualitas perilaku seseorang yang memiliki kebebasan, terkait erat dengan pola pikir atau paradigma yang dia miliki mengenai perilaku tersebut.
Pada saat konsep yang mendasari perilaku tersebut adalah konsep-konsep yang secara ideologis bertentangan dengan Islam, maka lambat, tetapi pasti cara berpikir dan bertindak akan diseret-seret sehasta demi sehasta atau sedepa demi sedepa ke daerah lubang gelap yang menjauhkan kaum Muslim dari identitas keislamannya sehingga tidak ada perbedaan antara Islam dan bukan Islam.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menelikung kaum Muslim dari berpikir bebas, namun lebih untuk mendudukkan persoalan antara berpikir dan bertindak. Berpikir bebas adalah satu hal, sedangkan terperosok mengikuti alur berpikir non-Islam justru gambaran ketaklidan terhadap pihak luar dan gambaran rendah diri berhadapan dengan pihak lain.
Cara berpikir demikian mengandung sinisme yang tajam saat dianggap salat, haji, zakat, puasa yang merupakan syariat kemudian diposisikan sebagai aturan teknis ornamental manusia bagi penguatan akidah, dan kemudian manakala dapat ditemukan cara lain untuk penguatan keyakinan pada Tuhan serta ada cara lain yang dianggap lebih praktis bagi pemberdayaan masyarakat, lantas salat, haji, zakat, puasa tersebut dapat dimodifikasi atau direformasi. Sinisme ini akan lebih menajam lagi, manakala diruntut implikasinya lebih lanjut. Umpamanya, dengan anggapan bahwa ajaran dasar itu adalah kepercayaan pada Tuhan, maka kita tidak memerlukan lagi pemikiran kritis yang membedakan mana Islam mana bukan Islam, mana tauhid mana musyrik, mana Muslim mana kafir, mana sunah mana bid'ah, asalkan manusia memiliki kepercayaan adanya Tuhan.
Kita tidak dapat dengan alasan bahwa yang paling berhak dan berotoritas untuk memberikan panilaian kafir, musyrik, murtad, dan mubtadi' itu adalah Tuhan, maka kita ikuti saja segala upacara ruwatan agung, toh hal itu juga ekspresi dari kepercayaan kepada Tuhan. Kita tidak dapat dengan alasan penyatuan substantif antara dakwah dan budaya lokal lantas merestui atau membenarkan memakan ayam hidup-hidup sebagai bagian dari ndadi (trance) akibat masuknya roh makhluk halus. Kejadian demikian kalau toh dilakukan para ulama pesantren, hendaklah diarifi sebagai cara persuasif untuk kemudian dihilangkan bukan untuk dilestarikan. Analog dengan itu sempat dilakukan Nabi saat didatangi pemuda jahat yang suka mencuri tapi mau masuk Islam. Beliau tidak melarang pemuda tersebut masuk Islam, namun setelah itu secara berangsur mendidik dia untuk meninggalkan perilaku jahat suka mencurinya.
Oleh karena itu menurut hemat saya, kita berhak dan malah wajib memahami istilah-istilah yang dikemukakan Alquran secara sangat benar, baik pada tataran konsep maupun pada tataran aplikasi. Kita wajib memahami apa perbedaan dan persamaan antara akidah dalam konsep Islam dan kepercayaan dalam konsep agama animis, antara Muslim dan kafir, antara tauhid dan musyrik, dan seterusnya. Karena itu tatkala Alquran menyebut istilah kafir atau thagut pada Fir'aun, kita wajib memahami bagaimana konsep kafir atau thagut yang diinginkan Alquran tersebut, apa indikasinya, apa unsur-unsur dominan yang mengarahkannya, dan bagaimana cara Tuhan mengajari Musa untuk menghadapinya. Dari cara-cara yang sangat santun dengan kata-kata lembut (Q.S. 20:44) sampai cara-cara yang sangat demonstratif unjuk kehebatan kemampuan masing-masing (Q.S. 20: 57-76).
Akidah, ibadah, muamalah, dan akhlak keempatnya merupakan satu kesatuan utuh yang tidak terpisahkan sebagai syari'ah Islam, dan masuk gerbang keislaman berarti memasuki bangun an utuh tersebut. Inilah makna keislaman yang kafah. Contohnya memasuki perilaku salat. Pada saat kita mengerjakannya, di dalamnya terkandung keempat aspek yang disebutkan di atas yakni salat sebagai ekspresi tentang keyakinan atau keimanan pada Allah dengan segala sifat kesempurnaannya, salat sebagai upaya hamba berhubungan secara ritual kepada-Nya, salat sebagai upaya menyatukan kebersamaan sesama kaum kerabat kaum Muslim, dan salat sebagai upaya hamba menghadirkan Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan sehari-hari.
Itulah yang dicontohkan Rasul. Oleh karena itu, salat wajib yang dikerjakan sendirian walau para ulama menyatakan sah, tetapi tidak pernah terberitakan sebagai sesuatu yang dicontohkan Rasul, hatta Rasul sedang sakit, beliau terus mengusahakan malah sampai dipapah untuk dapat salat berjamaah. Lebih dari itu kalau menurut Kuntowijoyo ber-Islam secara kafah, berarti hidup ber-Islam secara utuh, tidak setengah-setengah atau dicampur baur, di masjid salat secara Islam sementara di dunia politik menganut paham sekularisme, atau paham pragmatisme dalam berekonomi, dan paham marxisme dalam ber-LSM. Sepertinya beliau ingin menegaskan bahwa ber-Islam secara kafah, tidak menjadikan ibadah ritual berhenti di pelataran masjid saja tapi harus merebak dan memberi warna kepada segi-segi kehidupan yang lainnya.
Dengan tidak mengurangi kemungkinan persamaan proses dan hasil berpikir tentang objek material kealaman antara orang Islam dan orang non-Islam, kita sebagai orang-orang Islam didorong untuk menemukan cara berpikir yang dijiwai oleh firman Tuhan. Dalam kaitan ini, ajaran Islam tidak diposisikan sebagai fakta empiris masa lalu saja, namun lebih dari itu diposisikan sebagai ideologi (meminjam istilah Erich Fromm) yang harus diperjuangkan untuk dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari masa kini.
Dalam tataran akidah memosisikan Islam sebagai ideologi ini memiliki keuntungan efisiensi berpikir yang sangat signifikan dan keuntungan tersebut semakin ke sini, semakin mendapat pembenaran empirik. Kita ambil contoh cercaan Tuhan terhadap sifat serakah (Q.S. 102: 1-8). Sifat ini membinasakan peluang berkembang pihak lain dan menghancurkan keseimbangan hubungan antarpribadi. Dengan demikian, sebagaimana banyak ahli ekonomi mengemukakan bahwa dunia sekarang dikuasai oleh ilmu ekonomi keserakahan, kita rasakan sekali gambaran ketidakseimbangannya.
Di Jakarta para konglomerat makan di restoran harus membayar dua setengah juta untuk satu kali makan tiga orang, di pinggiran Gununghalu Bandung sana uang tersebut dapat mencukupi lima keluarga untuk satu bulan. Suatu gambaran nyata tentang betapa hidup jadi begitu tidak adil lantaran adanya keserakahan.
Artinya dengan percaya pada doktrin Alquran, negara dan pemerintahan kaum Muslim dituntut untuk tidak bersifat serakah dalam mengeksploitasi kekayaan alam baik di negerinya sendiri maupun di negara orang lain, bukan lantaran secara empirik telah terbuktikan bahwa serakah itu akan membahayakan tatanan hubungan sosial antarnegara atau hubungan internasional, namun lantaran memang Alquran menuntut demikian adanya. Dan memang realitasnya dapat dibuktikan dalam dunia empirik sekarang. Wallahu a'lam bishshawaab.***
Penulis Rektor Universitas Muhammadiyah Cirebon
Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata'ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila terus diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan.
Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu.
ISYARAT adanya kegelisahan masyarakat Islam Indonesia yang dikemukakan Kuntowijoyo sebagai guru bangsa terhadap pikiran-pikiran yang menggetarkan (thrilling) akhir-akhir ini perlu diapresiasi oleh semua kalangan pencinta ilmu-ilmu keislaman dengan baik dan cermat. Sebab bagaimanapun adalah benar bahwa pada akhirnya bentuk dan kualitas perilaku seseorang yang memiliki kebebasan, terkait erat dengan pola pikir atau paradigma yang dia miliki mengenai perilaku tersebut.
Pada saat konsep yang mendasari perilaku tersebut adalah konsep-konsep yang secara ideologis bertentangan dengan Islam, maka lambat, tetapi pasti cara berpikir dan bertindak akan diseret-seret sehasta demi sehasta atau sedepa demi sedepa ke daerah lubang gelap yang menjauhkan kaum Muslim dari identitas keislamannya sehingga tidak ada perbedaan antara Islam dan bukan Islam.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menelikung kaum Muslim dari berpikir bebas, namun lebih untuk mendudukkan persoalan antara berpikir dan bertindak. Berpikir bebas adalah satu hal, sedangkan terperosok mengikuti alur berpikir non-Islam justru gambaran ketaklidan terhadap pihak luar dan gambaran rendah diri berhadapan dengan pihak lain.
Kafah dalam berpikir
Syariah pada dasarnya adalah seluruh ajaran Islam (akidah, ibadah, muamalah, akhlak, atau keimanan, hukum, dan perilaku). Kalau memakai ruang lingkup yang kedua, istilah hukumnya dikaitkan dengan ibadah, muamalah, dan jinayah. Dengan pengertian syariat Islam berarti agama itu sendiri (al millah wa al diin), implikasinya jadi lain saat dihadapkan kepada pemikiran Islam melalui kategori akidah dan syariat dan kemudian diposisikan akidah sebagai pokok dan syariat sebagai penunjang.Cara berpikir demikian mengandung sinisme yang tajam saat dianggap salat, haji, zakat, puasa yang merupakan syariat kemudian diposisikan sebagai aturan teknis ornamental manusia bagi penguatan akidah, dan kemudian manakala dapat ditemukan cara lain untuk penguatan keyakinan pada Tuhan serta ada cara lain yang dianggap lebih praktis bagi pemberdayaan masyarakat, lantas salat, haji, zakat, puasa tersebut dapat dimodifikasi atau direformasi. Sinisme ini akan lebih menajam lagi, manakala diruntut implikasinya lebih lanjut. Umpamanya, dengan anggapan bahwa ajaran dasar itu adalah kepercayaan pada Tuhan, maka kita tidak memerlukan lagi pemikiran kritis yang membedakan mana Islam mana bukan Islam, mana tauhid mana musyrik, mana Muslim mana kafir, mana sunah mana bid'ah, asalkan manusia memiliki kepercayaan adanya Tuhan.
Kita tidak dapat dengan alasan bahwa yang paling berhak dan berotoritas untuk memberikan panilaian kafir, musyrik, murtad, dan mubtadi' itu adalah Tuhan, maka kita ikuti saja segala upacara ruwatan agung, toh hal itu juga ekspresi dari kepercayaan kepada Tuhan. Kita tidak dapat dengan alasan penyatuan substantif antara dakwah dan budaya lokal lantas merestui atau membenarkan memakan ayam hidup-hidup sebagai bagian dari ndadi (trance) akibat masuknya roh makhluk halus. Kejadian demikian kalau toh dilakukan para ulama pesantren, hendaklah diarifi sebagai cara persuasif untuk kemudian dihilangkan bukan untuk dilestarikan. Analog dengan itu sempat dilakukan Nabi saat didatangi pemuda jahat yang suka mencuri tapi mau masuk Islam. Beliau tidak melarang pemuda tersebut masuk Islam, namun setelah itu secara berangsur mendidik dia untuk meninggalkan perilaku jahat suka mencurinya.
Oleh karena itu menurut hemat saya, kita berhak dan malah wajib memahami istilah-istilah yang dikemukakan Alquran secara sangat benar, baik pada tataran konsep maupun pada tataran aplikasi. Kita wajib memahami apa perbedaan dan persamaan antara akidah dalam konsep Islam dan kepercayaan dalam konsep agama animis, antara Muslim dan kafir, antara tauhid dan musyrik, dan seterusnya. Karena itu tatkala Alquran menyebut istilah kafir atau thagut pada Fir'aun, kita wajib memahami bagaimana konsep kafir atau thagut yang diinginkan Alquran tersebut, apa indikasinya, apa unsur-unsur dominan yang mengarahkannya, dan bagaimana cara Tuhan mengajari Musa untuk menghadapinya. Dari cara-cara yang sangat santun dengan kata-kata lembut (Q.S. 20:44) sampai cara-cara yang sangat demonstratif unjuk kehebatan kemampuan masing-masing (Q.S. 20: 57-76).
Akidah, ibadah, muamalah, dan akhlak keempatnya merupakan satu kesatuan utuh yang tidak terpisahkan sebagai syari'ah Islam, dan masuk gerbang keislaman berarti memasuki bangun an utuh tersebut. Inilah makna keislaman yang kafah. Contohnya memasuki perilaku salat. Pada saat kita mengerjakannya, di dalamnya terkandung keempat aspek yang disebutkan di atas yakni salat sebagai ekspresi tentang keyakinan atau keimanan pada Allah dengan segala sifat kesempurnaannya, salat sebagai upaya hamba berhubungan secara ritual kepada-Nya, salat sebagai upaya menyatukan kebersamaan sesama kaum kerabat kaum Muslim, dan salat sebagai upaya hamba menghadirkan Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan sehari-hari.
Itulah yang dicontohkan Rasul. Oleh karena itu, salat wajib yang dikerjakan sendirian walau para ulama menyatakan sah, tetapi tidak pernah terberitakan sebagai sesuatu yang dicontohkan Rasul, hatta Rasul sedang sakit, beliau terus mengusahakan malah sampai dipapah untuk dapat salat berjamaah. Lebih dari itu kalau menurut Kuntowijoyo ber-Islam secara kafah, berarti hidup ber-Islam secara utuh, tidak setengah-setengah atau dicampur baur, di masjid salat secara Islam sementara di dunia politik menganut paham sekularisme, atau paham pragmatisme dalam berekonomi, dan paham marxisme dalam ber-LSM. Sepertinya beliau ingin menegaskan bahwa ber-Islam secara kafah, tidak menjadikan ibadah ritual berhenti di pelataran masjid saja tapi harus merebak dan memberi warna kepada segi-segi kehidupan yang lainnya.
Dengan tidak mengurangi kemungkinan persamaan proses dan hasil berpikir tentang objek material kealaman antara orang Islam dan orang non-Islam, kita sebagai orang-orang Islam didorong untuk menemukan cara berpikir yang dijiwai oleh firman Tuhan. Dalam kaitan ini, ajaran Islam tidak diposisikan sebagai fakta empiris masa lalu saja, namun lebih dari itu diposisikan sebagai ideologi (meminjam istilah Erich Fromm) yang harus diperjuangkan untuk dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari masa kini.
Dalam tataran akidah memosisikan Islam sebagai ideologi ini memiliki keuntungan efisiensi berpikir yang sangat signifikan dan keuntungan tersebut semakin ke sini, semakin mendapat pembenaran empirik. Kita ambil contoh cercaan Tuhan terhadap sifat serakah (Q.S. 102: 1-8). Sifat ini membinasakan peluang berkembang pihak lain dan menghancurkan keseimbangan hubungan antarpribadi. Dengan demikian, sebagaimana banyak ahli ekonomi mengemukakan bahwa dunia sekarang dikuasai oleh ilmu ekonomi keserakahan, kita rasakan sekali gambaran ketidakseimbangannya.
Di Jakarta para konglomerat makan di restoran harus membayar dua setengah juta untuk satu kali makan tiga orang, di pinggiran Gununghalu Bandung sana uang tersebut dapat mencukupi lima keluarga untuk satu bulan. Suatu gambaran nyata tentang betapa hidup jadi begitu tidak adil lantaran adanya keserakahan.
Artinya dengan percaya pada doktrin Alquran, negara dan pemerintahan kaum Muslim dituntut untuk tidak bersifat serakah dalam mengeksploitasi kekayaan alam baik di negerinya sendiri maupun di negara orang lain, bukan lantaran secara empirik telah terbuktikan bahwa serakah itu akan membahayakan tatanan hubungan sosial antarnegara atau hubungan internasional, namun lantaran memang Alquran menuntut demikian adanya. Dan memang realitasnya dapat dibuktikan dalam dunia empirik sekarang. Wallahu a'lam bishshawaab.***
Penulis Rektor Universitas Muhammadiyah Cirebon
Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata'ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila terus diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan.
Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu.
40 Syafaat Rasullullah
Langganan:
Postingan (Atom)